Categorized | Kemdikbud, UN

Mendikbud Minta Agar Kita Menghargai Hasil Ujian Nasional

Mendikbud Minta Agar Kita Menghargai Hasil Ujian Nasional

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy meminta agar semua pihak dapat menghargai hasil ujian nasional dan proses yang dijalani para siswa dalam menghadapi ujian nasional. Dalam membuat soal UN, Kemendikbud bersinergi dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk membuat soal-soal yang sesuai dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, atau High Order Thinking Skill (HOTS). Selain itu, peningkatan jumlah sekolah yang menerapkan UN berbasis komputer (UNBK) juga terbukti meningkatkan indeks integritas sekolah dan siswa.

Menurutnya, dengan tingkat kualitas ujian nasional sekarang ini, seharusnya tidak ada alasan untuk tidak mengakui atau tidak menghargai hasil ujian nasional dan anak-anak yang ikut UN. Ia berasumsi bahwa kalau ada lembaga yang mengabaikan kerja keras dari siswa-siswa yang telah menunjukkan tingkat kejujurannya yang tidak bisa diragukan lagi ini, saya kira itu bagian dari pelecehan, demikian seperti yang dituturkan oleh Mendikbud saat meninjau pelaksanaan UNBK di SMKN 29 Jakarta, Senin (2/4/2018).

Mendikbud mengatakan, hasil UN akan digunakan untuk pemetaan kualitas pendidikan secara nasional. Hasil UN juga akan digunakan sebagai dasar untuk membuat kebijakan-kebijakan dan perbaikan kualitas pendidikan di tahun berikutnya. Salah satu usaha peningkatan kualitas yang dilakukan dalam UN adalah untuk hal pembuatan soal.

Secara substantif pihaknya berusaha meningkatkan kualitas soal ujian, yaitu dengan memasukkan secara bertahap standar yang disebut High Order Thinking Skill (HOTS) yang menjadi standar sampai tahun 2025. Yang diharapkan kemampuan siswa-siswa kita sudah menggunakan mencapai HOTS.

Mendikbud juga berharap agar pelaksanaan ujian nasional semakin bisa dipertanggungjawabkan, termasuk tingkat kejujurannya. Ia sendiri merasa yakin dengan integritas yang dimiliki para siswa Indonesia. “Kalau dari segi kejujuran, saya kira sudah tidak relevan lagi untuk menguji tingkat kejujuran dari siswa karena kecil kemungkinan mereka melakukan pelanggaran atau perilaku ketidakjujuran dalam UN,” katanya.

Selain itu, ia juga yakin tidak akan terjadi kebocoran soal maupun kunci jawaban dalam pelaksanaan UN. Pemerintah telah menyiapkan paket soal UNBK yang berbeda-beda untuk setiap siswa dalam satu ruangan. “Misalnya sekarang tiap siswa peserta ujian hanya menghadapi satu soal yang beda dengan yang lain, sehingga tidak mungkin ada turunan atau bocoran jawaban yang bisa diseragamkan. Seandainya bocor, hanya satu saja, dan itu luar biasa jika bisa terjadi. Karena soal baru dibuka beberapa menit sebelum ujian dilaksanakan dan hanya oleh siswa yang mengikuti UNBK itu,” ujar Mendikbud.

Sebagai informasi tambahan bahwa masalah penilaian di Indonesia dilakukan oleh tiga unsur, yaitu pemerintah, satuan pendidikan, dan pendidik. Penilaian yang dilakukan Pemerintah saat ini dilakukan melalui ujian nasional (UN). Meskipun UN dilakukan untuk mengukur capaian kompetensi lulusan (assessment of learning) tetapi juga perlu dimanfaatkan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ir. Totok Suprayitno, Ph.D., menyatakan bahwa cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan kompetensi siswa adalah dengan memberikan umpan balik kepada siswa.

Kabalitbang menambahkan, untuk memberikan umpan balik penilaian, Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang, Kemendikbud, setiap tahunnya telah menyusun Laporan Hasil Ujian Nasional yang memuat seluruh data hasil UN dari tingkat provinsi sampai tingkat satuan pendidikan. Pada tahun 2018 ini, Laporan hasil UN dilengkapi dengan buku Rapor UN Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Ringkasan Eksekutif Hasil UN (rilis soal). Rapor UN Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan rilis soal merupakan upaya Puspendik untuk membantu Dinas Pendidikan Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan unit terkait dalam merancang tindak lanjut yang tepat sasaran.

Lebih lanjut Kabalitbang memaparkaan, kekuatan dan kelemahan suatu provinsi apabila dilakukan analisis lebih detail ke tingkat kabupaten/kota dan ke tingkat satuan pendidikan akan menghasilkan peta kekuatan dan kelemahan yang bervariasi. Oleh karena itu, upaya-upaya perbaikan pembelajaran seperti pelatihan guru tidak dapat dilakukan secara seragam, perlu mempertimbangkan kebutuhan masing-masing daerah/satuan pendidikan.

Untuk perbaikan pembelajaran, Balitbang saat ini juga menyediakan alternatif sarana yang dapat digunakan yaitu Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI). Aplikasi AKSI dapat diberikan gratis kepada pihak-pihak yang secara serius ingin menggunakan AKSI sebagai sarana perbaikan pembelajaran.

Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Moch Abduh, Ph.D., menyampaikan bahwa Rapor UN Provinsi/Kabupaten/Kota merupakan sarana Kemendikbud dalam menyampaikan capaian siswa serta diagnosa hasil penilaian. Diagnosa terdiri dari hal-hal yang sudah dikuasai dan hal-hal yang belum dikuasai. Hasil diagnosa tersebut dapat menjadi basis informasi untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran.

Rapor UN, lanjut Moch. Abduh, memuat informasi statistik umum, distribusi nilai siswa, dan proporsi menjawab benar untuk setiap cakupan materi/ indikator. Statistik umum berfungsi untuk menggambarkan variasi kemampuan kognitif siswa. Distribusi atau sebaran jumlah siswa pada setiap kategori rentang nilai berfungsi untuk memetakan jumlah siswa pada kategori rentang nilai tertentu sebagai masukan jumlah siswa yang masih menjadi tugas perbaikan bagi daerah, maupun jumlah siswa yang merupakan potensi daerah. Proporsi siswa menjawab benar untuk setiap cakupan materi/indikator soal berfungsi untuk memetakan kekuatan dan kelemahan provinsi/kabupaten/kota/ satuan pendidikan. Proporsi siswa menjawab benar yang tinggi pada cakupan materi/indikator tertentu menunjukkan hal-hal yang menjadi kekuatan, sedangkan proporsi yang rendah menunjukkan kelemahan yang memerlukan perbaikan.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Pendidikan, Dr. Supriano, menyatakan bahwa Ditjen GTK akan mendukung Balitbang dalam upaya untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu melalui pemberdayaan dan atau pendampingan MGMP.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan SMA, Drs. Purwadi Sutanto, M.Si., mewakili Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, juga menyatakan siap menindaklanjuti hasil UN. Direktur PSMA sudah memanfaatkan hasil UN dengan melatih guru-guru dari sekolah-sekolah yang memiliki capaian UN rendah.

Prof. Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung, dalam seminar yang sama membahas hasil UN Matematika. Ia menyatakan kelemahan siswa Indonesia adalah menerjemahkan masalah nyata ke dalam model matematika. Oleh karena itu, dalam pembelajaran Matematika guru hendaknya tidak hanya berfokus pada penyelesaian Matematika saja. Guru perlu memberikan pengalaman belajar kepada siswa untuk menyelesaikan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari menggunakan model Matematika.

Marilah kita menghargai hasil ujian nasional yang dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan/sekolah. Serta menghargai proses yang dijalani para siswa dalam menghadapi ujian nasional. Semoga bermanfaat, Amiin Yaa Alloh Yaa Robbal ‘Alamin!

Sumber:
– kemdikbud.go.id
– Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kemendikbud

Leave a Reply

Advert

Stats