UN Tetap Dilaksanakan Bulan Maret
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh menegaskan bahwa Ujian Nasional (UN) akan tetap dilaksanan sesuai rencana. Pihaknya tidak akan memundurkan waktu UN pada 22 Maret mendatang.
Hal itu ditegaskan oleh Nuh walaupun kenyataannya masih banyak pihak yang meragukan waktu yang sempit tersebut. Terlebih ketika pencetakan tiba-tiba diserahkan ke provinsi dan waktu pelaksanaan UN dimajukan.
Nuh mengakui banyak pihak terlalu eksesif atau berpikir berlebihan mengenai dimajukanya waktu UN ini. Tahun-tahun sebelumnya UN dilaksanakan pada April, tahun ini dimajukan pada pertengahan bulan Maret. “UN hanya dipercepat dua minggu dan bukan satu bulan sehingga tidak akan terlalu menggangu jadwal pra UN,” katanya kepada wartawan usai membukan Sarasehan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (13/1).
Misalnya untuk mata pelajaran Matematika, lanjut Nuh, pelajaran tersebut pun hanya diajarkan seminggu dua kali.”Kalau dimajukan dua minggu berarti kan hanya memampatkan waktu ajar hingga empat kali saja. Masa satu minggu nambah satu kali waktu pengajaran saja susah?,” ujarnya.
Nuh menambahkan lebih bagus lagi jika sekolah menambah waktu dengan ekstrakurikuler. Sehingga dalam waktu satu minggupun mata pelajaran yang akan diujikan akan selesai dipelajari jauh sebelum waktu UN. “Percepatan ini tidak usah diperdebatkan karena keputusan percepatan itu sudah dihitung secara logis,” katanya.
Seperti diketahui, mata pelajaran yang akan diujikan seperti mata pelajaran tingkat SMA/MA Program IPA meliputi Bahasa Indonesia; Bahasa Inggris; Matematika; Fisik; Kimia dan Biologi. Sementara untuk mata pelajaran UN SMA/MA program IPS yakni Bahasa Indonesia; Bahasa Inggris; Matematika; Ekonomi; Sosiologi dan Geografi. Sedangkan mata pelajaran program Bahasa hanya Bahasa Indonesia.
Mengenai percetakan, Mendiknas menjamin dalam waktu satu hingga dua minggu kedepan masih cukup untuk proses tender. “Setelah tender maka proses cetak pun bisa segera dilakukan,” tegasnya.
Nuh menuturkan untuk proses pembayaran provinsi tidak perlu menalangi seluruh biaya karena pembayaran dilakukan setelah semua soal ujian selesai dicetak. “Pada Januari ini hanya uang muka saja yang perlu dibayar. Kami yakin Februari ini anggaran untuk biaya cetak turun dan akan kami serahkan ke propinsi,” ujarnya.
Mendiknas menjamin tidak akan ada kebocoran. Salah satu alasanya adalah waktu cetak saat ini yang dilakukan berdekatan dengan waktu ujian. Untuk pengawasan, Nuh menegaskan pihaknya sudah menghubungi Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri(MRPTN) untuk membantu. Menurutnya mereka bersedia membantu sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tak hanya itu, imbuh Nuh, inspektorat baik yang ada di pemerintah pusat maupun provinsi juga akan dilibatkan. Pihak Kemendiknas juga segera membagi tugas bagi pengawas independen, kepala sekolah, pemkab dan pemkot.
Koordinasi mesti dilakukan secara tanggap darurat karena tanggal 25 nanti harus sudah ada kepastian tentang pemenang lelang. “Kami akan bergerak cepat supaya sebelum ujian berlangsung tidak akan ada masalah dalam soal ujian,” ujarnya.
Taufik menambahkan pihaknya sudah terlibat lama dalam hal pencetakan soal. Ia mengungkapkan dari pengalaman yang ada dari tahun sebelumnya dirinya menjamin selain tidak ada hambatan dari distribusi soal maka segi pengamanan pun akan ditingkatkan. “Kita akan terlibat lebih dalam tentang pencetakan ini agar tidak ada masalah yang akan mengacaukan jadwal UN,” jaminnya.
Sementara, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo mengatakan percepatan waktu UN menimbulkan stress tidak hanya bagi anak murid namun juga bagi guru, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan. “Namun yang terberat beban stresnya adalah anak murid dan guru karena tidak ada waktu luang bagi mereka untuk santai. Sebagian besar waktu mereka, bahkan di hari libur, digunakan untuk belajar dan menyelesaikan serta menyusun tugas,” katanya.
Sulistiyo menilai UN tidak akan dapat menjadi unsur pemetaan kualitas individu dalam dunia pendidikan. Dampak dari dipercepatnya waktu UN, kata Sulis, akan merambat pada disepelekannya mata pelajaran yang tidak diujikan dalam UN. “Para guru tidak mengajarkan mata ajar non UN dan menggantinya dengan melatih soal ujian yang bakal keluar pada 22 maret nanti,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Posted in UN 2010

Meri Tri Andini March 22nd, 2010 at 11:10 am
mnurut sya sbagai siswa smpn itu un terlalu cpt shingga siswa-siswi smp mnjadi tgang