PGRI Harapkan Mendiknas Perbaiki Kualitas UN

Bank Soal UN Gratis
Download Soal UN plus pembahasan dibuat oleh para pengajar handal

Kisi-kisi UN 2012
Download Kisi-kisi UN 2012 untuk SD/MI, SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Gratis Bank Soal Matematika
Koleksi Lengkap Soal UN, SNMPTN, UMB, Simak UI, UM Undip, SMBB Telkom, UM Undip, UM UPI

Informasi Ujian Nasional 2012
Informasi Ujian Nasional 2012 disertai dengan Latihan Soal UN 2012

Latihan Soal Snmptn 2012
Koleksi Latihan Snmptn 2012 dan Soal-soal Snmptn plus Pembahasan Lengkapnya

Latihan Soal UN 2012
Download Latihan Soal UN 2012 untuk SD/MI,SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Bank Soal
Bank Soal UN dan Seleksi PTN Lengkap

Ketua Umum Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGRI) Sulistyo mengharapkan Mendiknas Muhammad Nuh secara serius memperbaiki sistem Ujian Nasional (UN), termasuk penyelenggaraannya, termasuk meningkatkan kemampuan guru.
“Sistem dan penyelenggaraan UN, khususnya untuk tingkat SMA/SMK, sangat serius untuk diperbaiki,” katanya di Jakarta, Rabu (4/11).
Menurut Sulistyo yang juga Ketua Komite III Bidang Pendidikan, Agama dan Kesra, Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI), Mendiknas diharapkan secara seksama mempelajari UN dan memperbaikinya, sehingga produk UN semakin meningkat dan berkualitas.

Ia berpendapat, M. Nuh sebagai Mendiknas yang baru harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyelenggaraan UN, juga mendengarkan masukan dari berbagai pihak secara obyektif, sehingga apabila diperlukan perubahan, maka perubahan itu membawa kebaikan dan manfaat yang besar bagi dunia pendidikan nasional.
“Pelaksanaan UN selalu diwarnai berbagai kecurangan, dan itu amat memprihatinkan. Artinya, kita tahu semua bahwa hasil UN sama sekali tidak menggambarkan kemampuan peserta didik, itu akibat banyaknya perilaku curang,” katanya.
Menurutnya, UN seharusnya hanya menjadi salah penentu kelulusan siswa, namun pada prakteknya saat ini, UN justru menjadi penentu utama kelulusan.

Hasil UN, katanya, saat ini telah menjadi lambang prestadi sekolah atau daerah, bahkan pejabat tertentu.

“Kondisi seperti itu telah menimbulkan persoalan serius, sehingga diduga banyak pihak yg menekan kepala sekolah dan guru agar “menyukseskan” UN di sekolah atau daerah,” kata Sulistyo.
Menjelang UN, katanya, banyak pihak yg stres. Bukan hanya siswa, tetapi juga orangtua, guru, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan.
“Saya menduga banyak yang masih tersembuyi dalam pelaksanaan UN itu. Jadwal pelajaran sekolah sering diubah dengan mengutamakan jadwal mata pelajaran UN, dan siswa dilatih dalam frekuensi yang sangat tinggi, sehingga pendidikan terkesan diubah jadi pengajaran, pengajaran diubah jadi soal-soal,” katanya.
Dikemukakan, saat ini, pendidikan hanya menekankan pada aspek pengetahuan atau ingatan, sementara pendidikan nilai dan karakter sekarang sangat diabaikan.

Temuan lain, misalnya, ada pihak yang selalu berusaha membocorkan/ membuka soal sebelum pelaksanaan ujian, terus soal dijawab, dan selanjutnya dibocorkan kepada siswa.
“Ini pelecehan pendidikan, sehingga siswa di sekolah tertentu semakn tak mau belajar toh akan diberi bocoran jawaban,” katanya.

Kemudian yang sangat dikhawatirkan adalah olah nilai hasil UN yang dimanipulasi sehingga target kelulusan sekolah tertentu tercapai.
“Temuan ini tentu perlu pembuktian serius, karena memang sangat sult untuk dibuktikan, kecuali dari kepala sekolah dan guru yang mau meyampaikan secara jujur dan apa adanya,” katanya.

Tambah Beban

Dengan kondisi UN yang belum mantap, kata Sulistyo, maka ia mengharapkan Mendiknas M. Nuh untuk berhati-hati dalam menjalankan program yang terkait dengan UN.
“Kami meminta Mendiknas jangan tergesa-gesa menambah beban manfaat nilai UAN sebelum memperbaiki pelaksanaannya. Bahkan jika tidak ada perbaikan, sebaiknya UN ditinjau kembali pelaksanaannya,” katanya.
Ia meminta Mendiknas memikirkan kembali rencana untuk menjadikan dan memanfaatkan nilai UN SMA/SMK sebagai alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi negeri (PTN).
Menurutnya, ujian masuk PT mestinya mengutamakan lulusan SMA/SMK yang mempunyai kemampuan prediktif terhadap potensi siswa.
“Dengan kondisi UN saat ini yang memerlukan perbaikan serius, termasuk banyaknya dugaan-dugaan kecurangan, maka rencana untuk memanfaatkan nilai UN sebagai alat seleksi masuk PTN akan menjadikan tambahan beban yang sangat tinggi untuk UN yang akan datang, sehingga tingkat stres berbagai pihak akan semakin meningkat,” katanya.

Artikel Terkait

Tags:

Posted in Ujian Nasional



Leave a Reply