Memahami UASBN dan UN

Bank Soal UN Gratis
Download Soal UN plus pembahasan dibuat oleh para pengajar handal

Kisi-kisi UN 2012
Download Kisi-kisi UN 2012 untuk SD/MI, SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Gratis Bank Soal Matematika
Koleksi Lengkap Soal UN, SNMPTN, UMB, Simak UI, UM Undip, SMBB Telkom, UM Undip, UM UPI

Informasi Ujian Nasional 2012
Informasi Ujian Nasional 2012 disertai dengan Latihan Soal UN 2012

Latihan Soal Snmptn 2012
Koleksi Latihan Snmptn 2012 dan Soal-soal Snmptn plus Pembahasan Lengkapnya

Latihan Soal UN 2012
Download Latihan Soal UN 2012 untuk SD/MI,SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Bank Soal
Bank Soal UN dan Seleksi PTN Lengkap

Ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) SD selesai sudah. Seperti halnya ujian nasional SMP dan SMA, siswa SD kini tinggal menunggu hasil UAS untuk menuju jenjang pendidikan SMP.

Pelaksanaan UASBN yang berpedoman pada Permendiknas No. 82 Tahun 2008 tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN), tujuannya menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA); dan mendorong tercapainya target wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu.

Kegunaannya, selain memetakan mutu satuan pendidikan, juga sebagai dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.

Namun, tujuan UASBN itu–seperti halnya UN untk SMP dan SMA–perlu dievaluasi apakah telah tepat sasaran atau sebaliknya menjadi ladang bagi sejumlah orang untuk menangguk keuntungan dengan membuka bimbingan belajar dan les atau pelajaran tambahan di sekolah, dengan memungut uang dari siswa.

Di sisi lain, siswa bahkan orang tua mencari jalan agar anaknya lulus, meskipun jalan tersebut bertentangan dengan hakikat tujuan pendidikan.

Dalam menyambut UASBN atau UN yang melebihi porsi itu yang mestinya menjadi perhatian semua pihak untuk mengevaluasi manfaat dan mudarat dari sistem pendidikan seperti itu.

Pelajaran tambahan atau lazim disebut les sebenarnya tidak perlu diadakan. Sekolah yang memiliki manajemen kurikulum yang baik dan telah melaksanakan prosedur pengembangan sistem instruksional, penambahan jam pelajaran adalah mubazir. Sebab, UASBN termasuk kegiatan pembelajaran.

UASBN sebagai evaluasi hasil belajar seharusnya sudah terdesain dalam kurikulum sekolah. Langsung atau tidak, sudah termuat dalam rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) buatan guru mata pelajaran masing-masing.

Di sisi lain, pelaksanaan UASBN yang hanya menilai pencapaian tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia dengan jumlah soal 50 dan alokasi waktu 120 menit, Matematika jumlah soal 40 dengan alokasi waktu 120 menit, dan Ilmu Pengetahuan Alam (40) dengan alokasi waktu 120 menit telah menafikan mata pelajaran lain yang selama enam tahun dipelajari siswa.

Semestinya, sistem pendidikan kita kini perlu pendefenisian ulang karena semua tahu kurang menghasilkan para lulusannya siap menghadapi kehidupan sebenarnya di masyarakat.

Model sekolah kejuruan adalah langkah tepat untuk menciptakan sumber daya manusia yang siap berhadapan dengan pangsa pasar. Bisa kita bandingkan lulusan SMA dengan lulusan SMK. Para lulusan sekolah kejuruan lebih siap ketika dihadapkan pada persoalan ekonomi dengan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi.

Oleh sebab itu, sistem pendidikan yang hanya mengejar target nilai agar lulus dengan tidak mengaitkannya dengan kebutuhan pasar akan menciptakan pengangguran terdidik menjadi lebih banyak.

Dengan memahami kenyataan itu, sebaiknya pelaksanaan UASBN atau ujian nasional diarahkan tidak semata-mata mengejar target nilai karena apalah artinya nilai yang baik jika tidak mampu berbuat yang menguntungkan diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya.

LP

Artikel Terkait

Tags: ,

Posted in Artikel Pendidikan, News, UASBN, UASBN 2010, Ujian Nasional, UN SMP dan MTs



Leave a Reply