Topik | UN, UN 2019

Soal Ujian Nasional (UN) Tahun 2019 Akan Lebih Sulit

Soal Ujian Nasional (UN) Tahun 2019 Akan Lebih Sulit

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy Republik Indonesia (RI) memastikan materi soal UN atau Ujian Nasional tahun depan (tahun 2019) akan relatif lebih sulit dari pada tahun ini (2018). Pernyataan tersebut sebagaimana kami sitir dari pendapat Mendikbud, seperti yang dipublikasikan Harian Pikiran Rakyat (PR) online, 8 Mei, 2018.

Tujuan dari kebijakan tersebut adalah agar siswa terbiasa menghadapi persoalan baru sehingga siap bersaing di tengah kompetisi global. Apalagi sangat terpengaruh oleh revolusi industri 4.0. Menurut Menteri, kebijakan menaikan standar capaian kompetensi siswa tersebut sudah dihitung dan berdasarkan hasil evaluasi UN 2017/2018 secara komprehensif.

Beliau mengatakan, dengan menyisipkan 10% atau sebanyak 6-10 butir soal jenis High Order Thinking Skills (HOTS) pada materi soal UNBK 2018, mayoritas peserta ujian bisa menjawab dengan benar. Menurut dia, hal tersebut menunjukkan bahwa siswa Indonesia mampu diajak berpikir kritis dengan penalaran tinggi. Soal jenis HOTS merupakan soal standar PISA yang sudah lama diterapkan di berbagai negara maju.

Pak Muhadjir Effendy juga berpandangan, bahwa kalau siswa tidak dilatih untuk menjawab persoalan baru, ujian sesuai dengan kisi-kisi, maka itu bukan belajar kreatif. Tapi hanya meniru, mengetahui, mengingat dan mengulang saja. Itu tidak sampai pada berpikir kreatif. Karena itu jangan heran kalau kemarin UN beberapa soalnya berbeda. Ya, itu agar anak belajar mengahadapi dan memecahkan persoalan yang baru. Dijawab dengan nalar kritis dan kreativitasnya. Dan ternyata, hasilnya tidak mengecewakan. Lebih banyak yang bisa menjawab daripada yang gagalnya. (Mendikbud,r saat menghadiri Perayaan Puncak Hardiknas, di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Selasa 8 Mei 2018).

Selanjutnya Ia menjelaskan, menaikan standar capaian kompetensi siswa melalui mekanisme UN relevan dengan tantangan yang akan muncul dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Menurutnya, selama ini, siswa Indonesia nyaris tak pernah diberi ujian formal yang membutuhkan jawaban penalaran tinggi dan kreatif. Jenis soal ujian tak mencerminkan kemampuan maksimal anak didik.

Menurutnya, hal tersebut menunjukan anak-anak generasi penerus ini bukan tidak pintar, tapi selama ini tidak diberi ujian yang normanya lebih berat. Anak-anak selama ini diberi standar capaian yang rendah, padahal bisa diajak melompat saat standarnya dinaikkan. Karena itu untuk mempintarkan anak-anak tidak ada pulihan lain harus diberi tantangan yang semakin sulit agar saat menghadapi tantangan kehidupan ke depan mereka sudah siap. Karena terbiasa menghadapi tantangan yang sulit. Generasi ke depan harus dipersiapkan untuk tahan banting, yang berani menghadapi tantangan dan risiko.

Mendikbud meyakini, standar capaian yang rendah hanya akan membentuk generasi lembek, takut mengambil risiko sehingga mudah menyerah saat berhadapan dengan hal sulit. Padahal, tantangan ke depan, yang serba terpapar digitalisasi teknologi mutlak tak bisa dihindari lebih dari soal UN. Dengan demikian, kemampuan siswa pun harus menyesuaikan sehingga bisa terserap dunia usaha dan industri.

Karena itu tidak ada pilihan lain, dalam menyongsong industri 4.0, kami harus membangun kemampuan anak didik untuk meningkatkan membaca sehingga mampu berpikir kreatif. Dan itulah yang kemudian mendasari adanya pengembangan sisi belajar di sekolah termasuk ujian nasional yang kemarin heboh itu. Karena kami menyiapkan generasi kreatif. Kami yakin, dengan kemampuan kreatif yang tinggi, generasi bangsa tidak akan mudah menyerah. Bisa memprediksi situasi yang baru, demikian menurut Menteri.

Menteri Muhadjir menyatakan, era revolusi industri 4.0 ditandai dengan penggunaan secara masif teknologi digital dan semakin strategisnya peranan logaritma. Karena, dari logaritma inilah kemudian muncul beragam teknologi digital dan artifisial intelejen. Artifisial intelejen ini sebenarnya bukan hal baru, tapi penggunaannya yang secara masif baru terjadi sekarang. Kemudian juga munculnya otomasi di dunia industri yang kelak akan mengganti peranan tangan manusia. Tentu saja ini tidak berarti bahwa manusia akan tersingkir. Karena manusia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki teknologi apapun, yaitu mencipta dan kreativitas.

Nah, kalau menurut Mendikbud bahwa Soal Ujian Nasional (UN) Tahun 2019 Akan Lebih Sulit, maka mau atau tidak para pelajar di setiap jenjang pendidikan baik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK, juga Sekolah-sekolah Luar Biasa, dan Pendidikan Kesetaraan (Paket A, B, dan C), haruslah belajar dengan lebih giat lagi dan tentu terfokus pada materi yang akan diujikan. Demikian pula para guru harus mengajar dengan lebih baik dan lebih giat lagi, tentunya dengan dorongan / motivasi dari setiap orang-tua/siswa supaya keberhasilan dapat tercapai.

Selain belajar yang lebih giat/rajin lagi, para siswa juga para guru haruslah belajar dan mengajar dengan prinsip menuntaskan pembelajaran sesuai kurikulum yang dipergunakan daripada harus terpaku pada kisi-kisi Ujian Nasional Tahun 2019 semata.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang sebelumnya, Anies Baswedan sering mengajak siswa dan guru lebih fokus menuntaskan pembelajaran sesuai kurikulum yang digunakan di sekolah, dibandingkan hanya terpaku belajar latihan soal-soal berdasarkan kisi-kisi ujian nasional (UN). Ia mengamati banyak terjadi proses belajar mengajar di kelas 9 dan 12 yang hanya fokus latihan penyelesaian soal-soal. Tegasnya kita ajak para siswa untuk belajar berdasarkan kurikulum, bukan kurikulum UN. Selama ini banyak anak-anak hanya belajar berdasarkan kisi-kisi UN, akhirnya kisi-kisi itu membuat proses pembelajaran menjadi lebih sempit. (Anies dalam konferensi pers terkait ujian nasional, Rabu (11/5/2016) di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Jakarta).

Makanya Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) bersama Kemendikbud, segera menyikapi hal tersebut dengan mengubah kisi-kisi ujian nasional mulai tahun 2016 yang lalu. Kalau dahulu kisi-kisi yang berlaku tahun 2011 sampai 2015, komponennya kompetensi dan indikator soal. Indikator soal itu artinya apa yang mau ditanyakan dimasukkan dalam kisi-kisi.

Nah makanya Mulai tahun 2016 kisi-kisi UN memuat dua dimensi yaitu menyangkut materi dan level kognitif yang diukur. Bentuknya juga diubah, jadi ada indikator spesifik merujuk pada soal yang akan diujikan. Ini punya konsekuensi pada pembelajarannya, levelling-nya juga lebih eksplisit: 40 persen memahami, 40 mengaplikasikan, dan 20 persen menalar.

Ketua BSNP Zainal Arifin Hasibuan pernaht mengatakan bahwa perubahan kisi-kisi ini merupakan salah satu perubahan yang mendasar. Menurutnya hal ini merupakan salah satu upaya mempersiapkan sumber daya manuasia (SDM) yang lebih tangguh ke depannya. Sebelumnya anak-anak kita learning for the test, sekarang anak-anak dituntut belajar memahami materinya.

Sementara itu Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) Kemendikbud, Nizam mengajak para guru fokus menuntaskan pembelajaran sesuai kurikulum yang digunakan di sekolah, daripada belajar penyelesaian soal-soal untuk persiapan UN.

Sumber-sumber:
- Kemdikbud
- Pikiran Rakyat

Artikel Terkait

Leave a Reply

Advert

Stats