Biaya Sekolah Masih Mahal

Bank Soal UN Gratis
Download Soal UN plus pembahasan dibuat oleh para pengajar handal

Kisi-kisi UN 2012
Download Kisi-kisi UN 2012 untuk SD/MI, SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Gratis Bank Soal Matematika
Koleksi Lengkap Soal UN, SNMPTN, UMB, Simak UI, UM Undip, SMBB Telkom, UM Undip, UM UPI

Informasi Ujian Nasional 2012
Informasi Ujian Nasional 2012 disertai dengan Latihan Soal UN 2012

Latihan Soal Snmptn 2012
Koleksi Latihan Snmptn 2012 dan Soal-soal Snmptn plus Pembahasan Lengkapnya

Latihan Soal UN 2012
Download Latihan Soal UN 2012 untuk SD/MI,SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Bank Soal
Bank Soal UN dan Seleksi PTN Lengkap

Daftar sekolah! Para orangtua kini bingung jika hendak mendaftarkan anak mereka masuk sekolah. Mulai kelompok bermain hingga perguruan tinggi, biaya masuk luar biasa mahalnya.

Memang ada pepatah mengatakan, “Ada rupa ada harga”. Artinya, kalau ingin mendapatkan pendidikan berkualitas, ya harus berani bayar mahal.

Persoalannya sekarang, sudah tidak musim lagi biaya sekolah murah. Pemerintah boleh menyebutkan dana untuk pendidikan sudah mencapai 20 persen atau bahkan lebih dari total APBN. Realitasnya, orang miskin semakin sulit bisa duduk di bangku sekolah.

Kini banyak orangtua berani rugi dengan mendaftarkan anak ke sekolah swasta, yang sejak awal tahun sudah membuka penerimaan siswa atau mahasiswa baru. Mau berharap masuk sekolah negeri?

Banyak orangtua mulai putus asa, bahkan mencari jalan pintas. “Saya mendaftarkan anak di sebuah sekolah swasta. Biaya masuk Rp 3 juta. Uang sekolah Rp 250.000 per bulan. Jika nanti diterima di sekolah negeri, ya uang tersebut hangus,” begitu kata Yono (48), ayah empat anak yang menjadi karyawan swasta di Surabaya.

Jika anak diterima di sekolah negeri, biaya jenjang SD hingga perguruan tinggi bemang agak minim. Ini terutama jika anak diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) prestasi serta seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN).

Namun kalau lewat PMDK mandiri, biaya kuliah tetap saja selangit karena ada fakultas mematok sumbangan pembinaan pengembangan pendidikan (SP3) hingga Rp 150 juta ditambah uang kuliah setiap semester paling minim Rp 1,7 juta.

Kualitas

Kenyataannya, SD swasta yang disebut bermutu dan mahal di Surabaya tidak masuk 10 besar hasil ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) SD. Sekolah swasta juga ditengarai menjadi penyebab peringkat hasil ujian nasional Surabaya jauh di bawah kabupaten/kota lain.

Menurut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Surabaya Eko Prasetyoningsih, hal itu berdasarkan rekapitulasi hasil UASBN SD. Dari 10 SD hasil UASBN terbaik, hanya ada dua SD swasta.

Dari 50 SD dengan nilai UASBN terbaik, hanya 13 SD swasta masuk daftar. Di antara 13 SD itu, beberapa SD tidak terlalu terkenal. “Sementara SD yang dikenal bagus dan bayarannya tinggi malah peringkatnya jauh,” ujarnya.

Dalam daftar 50 SD itu, SD AL Irsyad di peringkat 13. Sementara SD Al Hikmah di peringkat 27. Adapun SD Al Falah tidak masuk 50 SD dengan hasil UASBN terbaik tahun ajaran 2008/2009.

Eko juga mengatakan, kualitas sekolah swasta boleh jadi menyebabkan peringkat Surabaya lebih buruk dari kabupaten/kota lain. Selain itu, jumlah peserta UASBN Surabaya juga relatif lebih tinggi dari kabupaten/kota lain.

Di Surabaya, UASBN diikuti 42.000 peserta dari 1.084 sekolah. Jumlah sekolah di Surabaya dengan jumlah peserta di Mojokerto hampir sama. Padahal, rata-rata nilai Surabaya dinyatakan cukup bagus.

Di Rayon 1 yang diikuti 37.172 pelajar, 85,74 persen mendapat nilai di atas 7,00. Sementara tingkat ketuntasan atau nilai di atas 6,00 ada 94 persen. Di Rayon 1, hanya 14 persen pelajar mendapat nilai di bawah 6,00. Sementara di Rayon 51 yang diikuti 472 peserta, ada 93,22 persen pelajar mendapat nilai di atas 7,00.

Makin terimpit

Soal sekolah mahal kini menjadi pergunjingan. Bayangkan, biaya untuk masuk kelompok bermain dengan hanya tiga kali pertemuan dalam sepekan sudah mencapai Rp 3 juta dan uang sekolah minimal Rp 150.000 per bulan.

Urusan biaya sekolah anak semakin tidak terjangkau dengan pendapatan orangtua semakin merisaukan. Orangtua kini pusing memikirkan cara mencari uang untuk bisa menyekolahkan anak di tingkat SD, sekolah menengah, ataupun perguruan tinggi.

“Anak itu aset, jadi harus tetap sekolah,” kata Yono, yang masih berharap anaknya diterima di SMP negeri meski uang Rp 3 juta yang sudah dibayarkan di sebuah sekolah swasta hangus. “Ini baru tahap awal mau mendaftar, belum lagi biaya beli buku serta transportasi rumah ke sekolah pergi-pulang karena tidak mungkin diantar-jemput,” tuturnya.

Pemerintah memang mulai membuat terobosan dengan meluncurkan program e-book yang bisa diunduh lewat internet. Dengan program ini, siswa diharapkan bisa mendapatkan buku murah melalui e-book.

“Mau mencari buku lewat internet lama, jadi tetap saja mahal. Lagi pula tidak mudah mendapatkan buku lewat dunia maya itu, padahal kami tinggal di Surabaya,” kata Ria (35), ibu tiga anak yang sudah mencoba mencari buku pelajaran anak lewat dunia maya.

Masyarakat dengan penghasilan lumayan pun mengeluhkan betapa mahalnya biaya pendidikan di negeri ini. Bahkan, ada yang memutuskan anak tidak perlu masuk kelompok bermain dan cukup diajari di rumah. Namun orangtua kini khawatir, jika anak tidak masuk kelompok bermain, proses sosialisasinya minim.

“Sehari penuh anak hanya berkumpul dengan pembantu di rumah dan mereka asyik menonton televisi. Lebih baik anak berusia tiga tahun masuk kelompok bermain meski biayanya mahal,” kata Lina (30), ibu rumah tangga dengan satu anak.

Memang ada beberapa program sekolah murah, seperti yang diluncurkan Pemerintah Kota Surabaya, yakni Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Lokasi PAUD juga tidak jauh dari tempat tinggal sehingga biayanya pasti super murah. Namun, belum semua kelurahan di Surabaya menyelenggarakan program PAUD di wilayahnya karena keterbatasan dana untuk membiayai program tersebut.

Hal yang jelas, masyarakat kurang mampu semakin terimpit dengan mahalnya biaya pendidikan. Sementara masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas kebingungan menyekolahkan anak dengan biaya terjangkau.

Faktor ini menjadi salah satu pemicu tingginya angka pengangguran di kota besar karena akan semakin banyak anak tidak sekolah. Mereka memilih membantu orangtua dengan berjualan koran atau produk lain.

Bagaimana anak mau sekolah, untuk makan sehari-hari saja sulit. Akibatnya, angka anak putus sekolah semakin sulit dikendalikan. Jangankan bisa duduk manis di sekolah favorit, bisa sekolah saja mungkin tinggal mimpi dan tidak kunjung diraih.

Biaya pendidikan benar-benar makin mahal sehingga yang bisa duduk di bangku sekolah hanya kalangan berduit. Pintar saja pun sudah tidak cukup jadi modal. Namun dana lebih harus dimiliki agar anak bisa sekolah dan menuntut ilmu sampai dapat.

Oleh Agnes Swetta Pandia

Artikel Terkait

Tags:

Posted in Biaya Pendidikan



Leave a Reply