Berburu Status CPNS Ke Metropolitan

Bank Soal UN Gratis
Download Soal UN plus pembahasan dibuat oleh para pengajar handal

Kisi-kisi UN 2012
Download Kisi-kisi UN 2012 untuk SD/MI, SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Gratis Bank Soal Matematika
Koleksi Lengkap Soal UN, SNMPTN, UMB, Simak UI, UM Undip, SMBB Telkom, UM Undip, UM UPI

Informasi Ujian Nasional 2012
Informasi Ujian Nasional 2012 disertai dengan Latihan Soal UN 2012

Latihan Soal Snmptn 2012
Koleksi Latihan Snmptn 2012 dan Soal-soal Snmptn plus Pembahasan Lengkapnya

Latihan Soal UN 2012
Download Latihan Soal UN 2012 untuk SD/MI,SMP/MTs, SMK, SMA/MA

Bank Soal
Bank Soal UN dan Seleksi PTN Lengkap

DI pojok sebuah kantin di kawasan Senayan, Tanahabang, Jakarta Pusat, Senin (2/11) sore, dua perempuan muda asyik memperbincangkan sesuatu. Seru! Saat disapa, mereka mengaku baru saja mengikuti tes calon pengawai negeri sipil (CPNS) Departemen Telekomunikasi dan Informatika (Depkominfo) di Istora Senayan yang diikuti sekitar 10.000 peserta.

Meski lelah pikiran dan tenaga setelah pagi-pagi benar harus berangkat dari rumah saudara di Bekasi Timur, Jawa Barat, keduanya, Ayuria Anggraeni (23) dan Ajeng Dwi Pramesti (23), tetap segar dan banyak bercanda untuk melepas ketegangan. Yuni Astuti (50), ibu Ayuria, ada di antara mereka.

Satu botol air mineral, es jeruk, dan sepiring kecil rujak sepertinya cukup untuk ‘menyembuhkan’ rasa lelah setelah tiga jam mengerjakan 150 soal ujian yang terdiri atas pengetahuan umum, Pancasila, bahasa Inggris, dan matematika. Tidak ada masalah selama tes.

“Semoga saja kami diterima dan bisa ikut seleksi CPNS berikutnya,” kata Ria, sapaan Ayuria Anggraeni. Menurut Ria, ujian CPNS kemarin dianggap lebih mudah daripada ujian CPNS Departemen Luar Negeri (Deplu) yang pernah diikutinya saat bulan Puasa lalu di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ajeng juga demikian, “Mudah-mudahan kali ini rezeki saya.”

Ria dan Ajeng merupakan sarjana dari Institut Teknologi Surabaya (ITS). Ria yang saat itu berbaju batik dinyatakan lulus dari jurusan information technology (IT) pada Februari 2009, sedangkan Ajeng yang berbaju biru lulus dari jurusan telekomunikasi pada Oktober 2008. Kali ini, mereka ingin mencoba peruntungannya bekerja di Jakarta.

Setahun lalu, seusai wisuda, Ajeng datang ke Jakarta untuk pertama kalinya dan mengikuti tes CPNS Depkominfo di Kelapagading, Jakarta Utara. Dari puluhan lulusan ITS yang mengikuti seleksi, hanya dua orang yang diterima. Melihat kenyataan itu Ajeng pantang menyerah.

Sekali lagi, Ria ingin mencoba peruntungannya di departemen yang sama. “Hanya di Depkominfo yang mau terima jurusan saya,” kata Ajeng semangat. Selama menunggu lowongan CPNS dari departemen itu, Ajeng berusaha mencari pekerjaan di Surabaya. Dia pernah menjadi broker saham sebuah perusahaan, tapi hanya bertahan beberapa hari dan setelah itu keluar tanpa bayaran.

Setelah itu Ajeng mengaku nganggur cukup lama hingga akhirnya mencoba lagi tes CPNS pusat. Usaha Ria agar bisa menjadi PNS juga masih membara. Jaminan pekerjaan dan fasilitas pegawai membuat dia ingin menjadi PNS di Jakarta. Setelah gagal tes CPNS Deplu, kini Ria mencoba masuk ke Depkominfo.

“Kalau di Jakarta kan PNS departemen. Jadi inginnya di pusat. Kalau di daerah ya jadi PNS provinsi atau kabupaten,” ujar Ria beralasan memilih Jakarta sebagai tempatnya bekerja daripada kota lain. Ia kemudian membandingkan, untuk jurusannya, Depkominfo membutuhkan lima sampai enam orang.

Ria dan Ajeng sadar, Jakarta bukan kota yang mudah ‘ditaklukkan’. Perlu perjuangan dan ‘modal’ yang tidak sedikit. Gelar sarjananya bukan jaminan bisa langsung bekerja.

Selain harus bisa ‘menaklukkan’ para pesaingnya yang juga sarjana dari seluruh daerah di Indonesia, Ria juga butuh ‘keberuntungan’. Dia juga harus siap bolak-balik Jakarta-Surabaya jika ada panggilan pekerjaan mendadak, dengan teman atau jalan sendiri.

Yuni Astuti mengatakan, perlu uang yang tidak sedikit jika ingin berangkat ke Jakarta. Warga Tambaksari, Surabaya, ini harus mengeluarkan sekitar Rp 1 juta hanya untuk transpor dengan kereta api kelas eksekutif Jakarta-Surabaya pp. Belum ongkos lainnya saat di Jakarta.

“Kalau naik taksi sopirnya tidak jujur dan argo kuda, berapa duit yang harus keluar. Padahal saudara saya tinggalnya di Bekasi,” kata Yuni yang bekerja di RS Haji Surabaya ini. Yuni sampai harus mengambil cuti dua hari selama menemani putri sulungnya ikut tes CPNS.

Saat pertama kali ke Jakarta, Ria pernah ketiban sial. Ketidaktahuan dia akan wilayah Jakarta dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab. Begitu turun dari Stasiun Gambir, dia memilih bajaj menuju ke kawasan Kemayoran. “Waktu naik bajaj itu diputer-puter. Turunnya juga nggak sesuai tempat yang dituju,” ujar Ria.

Begitu selesai istirahat, mereka segera beranjak ke Stasiun KA Gambir untuk kembali ke Surabaya. Mereka berharap, panggilan tes itu datang lagi dan bisa kembali di Jakarta, kota besar yang dipuji-puji orang karena menyediakan banyak tempat untuk bekerja itu, meski sebenarnya tidak.

Artikel Terkait

Tags: , ,

Posted in Cpns



Leave a Reply